Fan Fic My Sweety Rainbow Part 2

CASTING JANG GEUN SUK : KIM BEE JEONG PARK SHIN HYE : SONG HYE RA PARK MIN YOUNG ; AYUMIKO/ HYUNA KIM BUM : KIM JUN SU ============================ I5 tahun kemudian..... 26 april 2012 Hari ini adalah tepat setahun peringatan kematian ayah bee jeong, layaknya keluarga korea yang lain merekapun mengadakan hari peringatan kematian ayahnya dan hanya kerabat dekat saja yang hadir di kediaman mereka. Seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan dengan mengenakan setelan jas hitam berdiri menghadap ke sebuah meja keramik dimana di atasnya terdapat nisan kayu bertuliskan sebuah nama lengkap dengan pajangan foto ayahnya, pria itu adalah kim bee jeong. Ia menunduk memberikan penghormatan beberapa kali kemudia menatap foto ayahnya yang seperti tersenyum ke arahnya. " semoga disana ayah hidup bahagia bersama ibu" bisiknya kemudian terdengar lirih Sebuah tangan menyentuh pundaknya serta merta mengalihkan perhatiannya ke arah pria tua yang kini berdiri di sampingnya. " haraboji..." gumamnya pada pria tua yang tidak lain adalah kakeknya, tuan besar kim. " tak terasa sudah setahun ayahmu meninggalkan kita" " ne haraboji...! Aku yakin ayah bahagia bertemu dengan ibu di sana" sahut bee jeong terlihat begitu tegar. Bunyi ponsel milik bee jeong menghentikan perbincangan mereka lantas bee jeong menjawab panggilan itu sambil berjalan keluar. " dimana dia sekarang?" tanyanya serius " cegah dia dan jangan biarkan dia masuk ke dalam rumah! Aku akan segera ke sana!" lanjutnya lagi begitu tegas sambil mempercepat langkah kakinya yang panjang. Setibanya di halaman depan rumah, bee jeong segera menghampiri seorang wanita yang tengah memaksa untuk masuk, wanita tersebut adalah bibi mi ja. " apa seperti ini caramu menyambut tamu?" sergah bibi mi ja " aku tidak merasa mengundangmu jadi lebih baik pergi dan jangan membuat keributan di sini" sahut bee jeong dingin. " setahun yang lalu kau juga melarangku untuk melihat jenazahnya, lalu apa sekarang kau juga akan melarangku untuk ikut memperingati hari kematiannya?" protes bibi mi ja " dia ayahku dan aku sama sekali tidak menghendaki kehadiranmu!" ketusnya. " kenapa kau begitu membenciku jeog-ah? Kalau hanya karena kebencianmu terhadap junsu bukankah kau sudah membalasnya dengan mengusir kami dari rumah bahkan kau memaksa jun su untuk pergi meninggalkan korea, tidak kah kau menghargaiku sedikitpun, walau bagaimanapun kau tetaplah keponakanku" tukasnya setengah mengeluh dengan penderitaannya selama ini. " aku memang mengusir kalian dari rumah dan mengirim junsu ke luar negeri, tapi itu tidak melupakan kebencianku pada kalian! Kau harus menerima balasan yang lebih pedih atas apa yang kau lakukan terhadap ibuku!" kecam bee jeong penuh kebencian. " apa maksud ucapanmu itu? Memangnya apa yang sudah aku lakukan terhadap ibumu?" tanya mi ja pelan mulai menangis. " aku senang melihatmu menangis seperti ini. Kau pasti sangat menderita karena terpisah dengan putramu selain itu kau juga tidak bisa melihat jenazah pria yang kau cintai untuk yang terakhir kalinya" bibi mi ja tertegun dengan mata terbelalak setelah mendengar kata kata tadi " apa...yang baru saja kau katakan..." tanyanya tergagap. “ aku tahu hubungan asmaramu dengan ayahku!!” tutur bee jeong membuat mi ja tercekat mendengarnya. " bertahun tahun aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan ini padamu. Sebenarnya sebelum ibuku mengalami kecelakaan dia sempat melihat kalian berdua bermesraan di dalam mobil! Bisa kau bayangkan bagaimana menderitanya ibuku saat ia meninggal! Karena itu aku bersumpah untuk membalasnya dengan hal yang lebih menyakitkan dari apa yang pernah aku rasakan!!” Jelas bee jeong sambil berteriak garang. bibi mi ja terkulai lemas, ia tak menyangka bee jeong mengetahui hubungan asmara antara dia dan ayahnya bahkan ia sama sekali tidak pernah tahu kalau ibu bee jeong sempat mengetahuinya tepat di saat ajal menjemputnya. Hal itu membuat mi ja disergap perasaan bersalah hingga menangis penuh penyesalan, ia tak melawan sedikitpun saat kedua penjaga menyeret dan membawanya pergi. *** Tuan besar kim sendiri bukannya tidak mengetahui kejadian itu tapi ia hanya bisa berpura pura tidak mengetahuinya demi kenyamanan bee jeong. Di sela sela sarapan pagi ia sedikit menyinggung masalah itu. " sepertinya kemaren kakek mendengar keributan di depan rumah, memangnya siapa yang datang?" Bee jeong berhenti mengunyah makanannya lalu melirik kakeknya. " dia bukan siapa-siapa" sahutnya malas dan mendadak nafsu makannya menjadi hilang. " aku ke kantor dulu..." ucapnya kemudian hendak bangkit. " tunggu sebentar!" cegah tuan kim mengurungkan niat bee jeong. " ada yang ingin kakek katakan?" tanya bee jeong penasaran " hummm! beberapa hari yang lalu kakek bertemu dengan sahabat dekat ibumu, dulu mereka sama-sama penari balet tapi kemudian dia menikah dengan orang jepang dan memutuskan untuk meninggalkan korea" tutur kakeknya " lalu apa yang ingin kakek sampaikan padaku?" Tuan kim mengeluarkan sebuah foto dari saku bajunya dan menyodorkannya ke hadapan bee jeog. " dia adalah putri sahabat ibumu itu, namanya ayumiko dan kami sudah sepakat untuk menjodohkan kalian berdua" jelas tuan kim sukses membuat bee jeong terbelalak. " haraboji...bukankah baru dua minggu yang lalu aku melakukan kencan buta dengan gadis pilihan kakek, setidaknya kakek memberiku waktu untuk bernafas" protes bee jeong merasa keberatan. " kau memang sering melakukan kencan buta tapi kau tidak pernah serius dengan mereka, kau hanya mengencani mereka beberapa hari lalu kemudian mencampakkan mereka. Itu sama saja kau mempermainkan kakekmu ini!!" sahut tuan kim " aku hanya belum menemukan gadis yang cocok untukku, selain itu aku juga belum berniat untuk menikah" sahut bee jeong membela diri. " sebelum meninggal aku ingin melihatmu menikah dan hidup bahagia, jadi kali ini aku benar-benar memaksamu dan jangan membantahku!" gertak tuan kim dengan wajah serius. " maaf kakek, aku menolaknya...aku sudah lelah melakukan kencan buta" sahut bee jeong sambil berdiri hendak pergi. " jika kau menolaknya aku tidak akan tinggal diam" " haraboji...." " aku akan membawa jun su kembali ke korea dan menyerahkan 5% saham yang di wariskan ayahmu padanya" ancam tuan kim. untuk sesaat bee jeong membisu setelah mendengar ancaman kakeknya, dalam hati ia selalu bertanya tanya kenapa almarhum ayahnya menyerahkan sebahagian sahamnya untuk kim jun su, orang yang sangat ia benci. Pertanyaan itu sampai kini masih belum terjawab. " jika haraboji melakukan itu maka aku yang akan pergi dari rumah ini!" bee jeong balik mengancam lalu melangkah keluar menuju mobilnya. " huuuh...susah sekali mengatur anak itu!" desah tuan kim setengah mengeluh. *KIM INDUSTRY Seorang sekretaris masuk dan menyerahkan sebuah undangan pada kim bee jeong. " apa ini? " tanyanya lantas memeriksa undangan itu. " anda di minta menjadi juri di sebuah ajang perlombaan atas proyek bangunan sebuah mall baru milik park wisma company. Banyak perusahaan kontruksi lainnya yang akan turut serta begitu juga dengan perusahaan kita sendiri" jelas sekretaris itu mendetail. " atur jadwalku di hari itu!" perintah bee jeong. " baik, tuan!" *** ~HS kontruksi HS kontruksi adalah sebuah perusahaan yang pastinya bergerak di bidang kontruksi bangunan. Pemiliknya biasa di panggil direktur ha na, dia adalah gadis tua yang terkenal galak dan bawel dalam memimpin, tak heran bila banyak para karyawan yang tidak tahan bekerja dengannya dan lebih memilih keluar dan mencari pekerjaan yang lain. Tapi lain halnya dengan song hye ra, gadis 25 tahun dan menjabat sebagai kepala perencanaan bangunan dan juga sebagai arsitek di perusahaan itu. Baginya pekerjaan ini sangat penting untuk menopang kehidupan dan kebutuhan sehari hari keluarganya karena sudah sejak 6 bulan yang lalu ayahnya yang juga seorang arsitek tidak bisa lagi mencari nafkah karena sebuah kecelakaan, ayahnya tertimpa runtuhan gedung tempat ia bekerja dan hingga kini masih koma di rumah sakit. Untung biaya perawatan rumah sakit di tanggung oleh pihak ansuransi dan hal itu cukup meringankan bebannya, sedang sang ibu yang tidak bisa menerima keadaan suaminya melampiaskan kesedihannya dengan menjadi pecandu alkohol bahkan kecanduan berjudi. Setiap hari sepulang kerja hye ra harus mengurusi adik perempuannya yang berumur 14 tahun dan menderita lemah mental, bahkan adiknya hampir setiap malam menangis karena mengompol atau minta dibuatkan susu olehnya. Hal itu menyebabkan hye ra kurang tidur dan sering mengantuk saat bekerja. Apalagi di saat rapat yang membosankan seperti sekarang ini dimana sudah satu jam tadi ia mendengarkan bosnya itu berbicra. Hye ra tidak bisa lagi menahan kantuknya, alhasilkepalanya terkulai dengan mata terpejam. Sontak semua perhatian peserta rapat tertuju padanya dan tak terkecuali direktur ha na yang langsung berteriak sambil menggebrak meja dengan kuatnya hingga seluruh benda yang ada di atas meja rapat berguncang hebat. " KYA!! SONG HYE RA!!" Hye ra tersentak kaget lantas terbangun dan kembali ke posisi duduknya seperti semula. " bagaimana kau bisa tidur di saat rapat penting seperti ini!” bentak bosnya “ chwesonghamnida…” ucapnya berkali-kali sambil melirik wajah marah bos wanitanya itu. “Kami sudah putuskan untuk mengutusmu sebagai perwakilan dari perusahaan kita untuk memenangkan proyek park company. Tinggal dua hari waktu yang tersisa jadi kau harus bekerja ekstra membuat rancangan bangunan mall yang berkelas dan... jika kau gagal memenangkannya maka aku akan memecatmu!!" " memecatku??" tanya hye ra " Ye! Kau kira aku tidak berani memecatmu! Sahut bosnya ketus. “ Baik lah...rapat selesai sampai di sini..." direktur hana segera keluar dari ruang rapat sementara peserta rapat lainnya masih sibuk memberi semangat kepada hye ra. " menyebalkan! Ini sudah kesepuluh kalinya ia mengancam akan memecatku! Aisshh..." keluh hye ra pada go ah ra teman sekantornya. " cihh! Aku ingin sekali menendangnya!" timpal temannya itu. " aku ingin sekali merobek robek mulutnya!" sambut hye ra " mulut siapa yang ingin kau robek!!" hye ra dan ah ra sontak terkejut dan membungkam mulutnya begitu mendengar sahutan dari depan pintu ruangan bosnya. " kerjakan rancanganmu! Ingat waktumu hanya tersisa 2 hari lagi!" lanjut bos wanitanya itu sambil membanting pintu. " aishh...dia benar benar membuatku gila!" geram hye ra lantas terpaksa memulai pekerjaannya, mencoba membuat rancangan sebuah mall yang harus benar benar istimewa dan di tangannya yang lihai dalam menggambar pola bangunan tak diragukan lagi hasilnya pasti memuaskan apalagi ia mengerjakannya selama dua hari dua malam dengan waktu istirahat yang sedikit, tapi ia cukup merasa puas saat bos wanitanya berdecak kagum dengan hasil rancangannya. " aku pastikan kau pasti bisa menang! Tak salah aku memperkerjakanmu. Aku pasti bisa mengalahkan perusahaan kim industry!" gumam bosnya itu tak jelas. Lagi lagi ia menyebut nama perusahaan besar itu dan entah kenapa bosnya itu begitu terobsesi untuk bersaing dengan perusahan sebesar kim industry. Masa bodoh! Hye ra tidak mau tahu urusan bosnya itu. *** Song hye ra membawa dua piring sarapan pagi untuk dirinya dan adiknya song mi li sedang ibu mereka sudah semalaman tidak pulang ke rumah. " mi li, nanti siang eonni tidak bisa pulang ke rumah. eonni meletakkan susumu di dekat televisi. Ingat jangan di minum sekarang" pesan hye ra segera berdiri, mengamit tas dan rancangan bangunannya lalu hendak pergi namun tiba tiba mi li merengek sambil menunjukkan sebuah harmonika bermaksud agar hye ra memainkan harmonika itu untuknya. " mi li~ah...jangan sekarang. Aku sudah terlambat" tolak hye ra " eonni...jebal..." rengek mi li begitu manja, apalagi melihat wajah bodohnya itu membuat hye ra tidak sampai hati untuk menolak permintaan adiknya itu. hye ra kembali duduk lalu mulai memainkan harmonika itu. Setelah memainkan satu Buah lagu ia melihat mi li tertidur dengan wajah tergeletak di atas meja. Song mi li memang mempunyai nafsu tidur yang tinggi dan inilah yang membedakannya dengan manusia normal lainnya. Hye ra tersenyum melihatnya dan memang sudah menjadi kebiasaan adiknya itu akan tertidur setiap kali ia memainkan harmonika itu. ”Aku sudah terlambat!" Hye ra melompat dari tempat duduknya begitu melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 8. Sebelum pergi ke kantor ia memindahkan tubuh mi li ke atas sofa di ruang televisi lalu menyalakan televisi itu, dengan begitu saat mi li terbangun nanti ia tidak menangis dan bisa langsung menonton televisi. Hye ra terlambat setengah jam masuk kantor dan pasrah menerima dampratan dari bosnya tapi kali ini sepertinya bosnya itu sedang baik hati dan tidak memarahinya bahkan semakin memberinya semangat dalam mengikuti lomba rancangan bangunan yang akan di adakan hari ini di Green building, sesuai dengan namanya bangunan elit itu berwarna hijau yang sering digunakan untuk acara acara penting. " aishhii... kenapa harus diadakan di tempat itu seh! Aku jadi terpaksa naik taxi..." keluhnya setelah berada dalam taxi sambil memeriksa keadaan uang di dalam dompetnya yang sudah limit. Karena memang tidak ada bus umum yang menuju ke green building yang terletak di kawasan elit dan membuatnya terpaksa merogoh kocek untuk membayar ongkos taxi. Hye ra semakin mengeluh setibanya di tempat tujuan, tiba tiba hujan turun begitu deras. Dari dalam taxi ia berlari kencang menuju gedung yang berwarna hijau itu namun saat hendak masuk tiba tiba seorang penjaga memintanya untuk menunjukkan kartu peserta. " kartu peserta? " tanyanya bingung lalu sesaat kemudian memukul jidatnya sendiri begitu teringat kartu pesertanya yang tanpa sengaja tertinggal di kantor. " ahhh...eottokee!" dongkolnya pada diri sendiri lantas berpikir keras untuk mencari sebuah solusi. ada dua solusi dibenaknya, pertama menelpon go ah ra dan menyuruhnya mengantarkan kartu peserta itu dan solusi yang kedua dia harus kembali ke kantornya lagi walau resikonya akan menguras habis sisa uangnya. Maka dari itu ia mengambil solusi yang pertama dan segera menghubungi go ah ra. " ah ra~ah aku butuh bantuanmu sekarang" tukasnya setelah terhubung " mwoya?" " aku meninggalkan kartu pesertaku di meja kerja dan tanpa itu aku tidak bisa masuk. Maukah kau mengantarkannya untukku...jebal..." tukasnya sambil memelas. " di luar sedang hujan deras dan aku pasti tidak di izinkan keluar kantor sekarang" " kyaaa... go ah ra! Kau ingin aku mati? Aku mohon padamu, kau kan punya mobil...palli wa...jebal..." rengeknya semakin menjadi jadi " aku tidak bisa..." " gurae, kalau kau tidak datang akan ku sebarkan foto bugilmu di kantor!" ancam hye ra kesal " kya! Hye ra...!! teriak ah ra merasa gentar dengan ancaman itu “baiklah...baiklah! Akan ku usahakan datang!" sahut go ah ra dengan suara terpaksa. Hye ra tak perduli go ah ra terpaksa melakukannya atau tidak yang penting saat ini dia selamat. Dengan perasaan gelisah hye ra menanti kedatangan go ah ra, entah sudah berapa kali ia berjalan mondar mandir di depan gedung itu sambil meracau tak menentu, tak perduli orang lain menganggapnya sudah gila. " kenapa dia lama sekali?" gerutunya sambil celingukan ke arah jalan bertepatan dengan melintasnya sebuah mobil berwarna putih yang menginjak genangan air hujan di depan hye na berdiri sekarang. " AAAHHHKK!!" Hye ra terpekik kaget saat air hujan menyiprati seluruh tubuhnya. " AISSHHII..." geramnya sambil menyeka wajahnya yang juga ikut jadi korban. " Dasar kurang ajar!!" teriak hye ra sangat marah setelah melihat kemeja dan rok yang ia kenakan kotor dan basah kuyup begitu juga dengan hasil rancangannya yang sudah pasti ikut basah. Pintu mobil itu terbuka, sebuah payung terbentang lebar lantas sang pemilik mobil itu keluar. Seorang pria bepakaian serba putih muncul dari dalam mobil, wajahnya begitu tampan dengan bentuk tubuh yang tinggi proposional di tambah lagi rambutnya yang sedikit panjang namun berkesan jantan, semakin melengkapi kesempurnaan bentuk pria itu. Sejenak hye ra terpana dan melupakan kemarahannya tadi, namun saat melihat pria tampan itu melangkah dengan santainya tanpa perasaan bersalah sedikitpun dan seolah olah tidak terjadi apapun membuat hye ra jadi kesal dan menepis perasaan simpatinya tadi. " yaak! Tuan, tunggu sebentar!" teriak hye ra segera menghampiri pria itu. " kau memanggilku?" tanya pria itu datar. " jadi kau pikir aku memanggil siapa? Tentu saja kau...apa kau tidak melihat keadaanku sekarang?" jawab hye ra sambil memamerkan keadaan tubuhnya. " lalu..." tanya pria itu masa bodoh. Hye ra tertawa hambar mendengarnya. " mwoya! Bukankah kau yang sudah menyebabkan aku seperti ini! Kau mengotori bajuku dan juga rancanganku...Ya Tuhan! Rancanganku jadi rusak! Eottokee..." gumamnya sambil mengeluh bercampur kesal saat melihat hasil karyanya basah dan kotor. " katakan apa maumu sekarang? aku tidak punya banyak waktu untuk berbicara dengan orang asing!!" ucapnya santai sambil melirik jam tangannya yang terbuat dari emas putih. " chhh! Jadi kau sungguh tidak merasa bersalah? Setidaknya kau mengucapkan maaf padaku..." gumam hye ra semakin kesal. " dengar! Aku tidak melakukan apapun padamu, dan mobilku sudah melintas pada tempat yang benar! Kesalahan ada pada dirimu kenapa kau berdiri di sana? Dasar bodoh!!" gumam pria itu ketus kemudian melenggang pergi. Hye ra kesal mendengar ucapan pria itu yang berbalik menyalahkan dirinya padahal sudah jelas dia yang telah menjadi korban apalagi pria tadi sempat mengatainya bodoh. Sebelum pria itu hendak memasuki gedung, hye ra segera mengejarnya dan dengan sigap ia menarik lengan pria itu. " apa apaan kau ini!!" bentak pria itu merasa keberatan di sentuh lengannya lalu dengan kasar menepis tangan hye ra. " ternyata sikapmu tidak sebagus wajahmu! Kau tidak tahu sopan santun!! Apa kata maaf begitu sulit untuk kau ucapkan..." ucap hye ra sambil mengecam. " aku tidak perlu bersikap sopan pada orang yang tidak aku kenal! Katakan saja kau mau minta ganti rugi berapa?" " mwo...mwoya? Ganti rugi?" ulang hye ra kemudian tertawa kesal. Tampak pria itu mengeluarkan uang 300 ribu won dari dalam dompetnya lalu meneliti pakaian yang dikenakan hye ra saat itu. " bajumu terbuat dari bahan murahan dan pasti harganya sangat murah, uang 300 ribu won ini sudah lebih dari cukup untuk membeli pakaian mahal dan sisanya gunakanlah untuk pergi ke sauna! Bersihkan tubuhmu yang kotor itu! Anggap saja hari ini kau sedang beruntung ..." ucap pria itu sambil meletakkan uang 300 ribu won itu ke dalam genggaman tangan hye ra. hye merapatkan gigi giginya hingga bergemeretak pertanda geram dengan sikap sombong pria tadi. " beruntung? Apanya yang beruntung?" bisiknya geram lantas ingin membalas ucapan itu tapi pria itu sudah keburu masuk dan pintu tertutup. Hye ra mencoba untuk masuk namun kedua penjaga disana menghalanginya Hye ra hanya bisa memaki tak jelas sambil memandangi uang yang ada di tangannya. " apa dia pikir aku serendah itu, meminta ganti rugi padanya? Dasar brengsek!" makinya terus menerus dan kekesalannya semakin bertambah saat melihat rancangan bangunannya yang sebagian tidak terlihat dengan jelas karena luntur terkena air tadi. Tamatlah karirnya kini karena sudah pasti bosnya akan memecatnya. " pria brengsek itu...." geramnya dengan suara tertahan. " akan kubalas kau!!" dengan perasaan marah hye ra mencampakkan hasil rancangannya ke lantai lantas bergegas hendak masuk. " nona kau tidak boleh masuk!" seorang petugas melarangnya masuk. hye ra menatap tajam kearah dua orang penjaga itu seperti banteng yang sudah siap untuk mengamuk, wajahnya pun memerah. " MINGGIR KATAKU!!!" teriaknya keras sambil berlari hendak menubruk ke dua penjaga itu. Sanking merasa takutnya dengan amukan hye ra kedua pria itu menyingkir dan akhirnya hye ra berhasil masuk namun sepertinya kedua penjaga itu tetap bersikeras mengejarnya. hye ra segera mempergunakan kesempatan itu dengan baik untuk mencari pria berjas putih tadi diantara para peserta yang telah hadir. Akhirnya hye ra menemukannya, pria itu tampak sedang duduk santai di meja khusus. Tak ingin membuang buang waktu ia langsung menghampiri meja pria itu lantas menggebraknya. Pria berjas putih itu terkejut melihat hye ra muncul lagi lantas berdiri menantang. " MWOYA...!! apa lagi yang kau inginkan!" hardiknya marah. " kali ini kau beruntung berada di keramaian kalau tidak sudah ku tendang wajah brengsekmu itu!" maki hye ra " cihh! Kau kira aku takut padamu? Dasar tidak waras!" sahutnya mengejek. " apa 300 won masih belum cukup bagimu? dasar Tidak tahu malu!" lanjutnya kemudian semakin membuat hye ra kesal dan tiba tiba saja meraih segelas air dari atas meja dan menyiramkannya ke wajah pria itu. sejenak keadaan di ruang itu menjadi ricuh dan ada juga yang terbengong tak percaya melihat perbuatan hye ra yang begitu berani terhadap pria yang paling berpengaruh di antara pria pria yang hadir di sana. " kim bee jeong~ssi, anda baik baik saja?" tanya seorang pria setengah baya yang duduk di sampingnya tadi dengan perasaan cemas. pria yang bernama kim bee jeong itu tidak menjawab, tangannya menyeka wajahnya yang basah dengan perasaan marah. Baru saja ia selesai melakukan hal itu tiba tiba hye ra meletakkan uang 300 ribu won tadi di kening bee jeong dan uang itu tepat melekat di keningnya. " aku kembalikan uang itu untuk membersihkan wajahmu, kita impas!" tandas hye ra begitu mantap lantas berbalik hendak pergi. Namun tiba tiba ia merasa ada yang menarik tangannya lalu mendorong tubuhnya ke dinding begitu kuatnya hingga membuatnya menjerit merasa sakit di bagian kepalanya. " mau apa kau?" tanyanya pada bee jeong yang kini tengah menekan leher hye ra dengan lengan kirinya. " kau sudah keterlaluan!! Kau belum tahu siapa diriku HUH..!!" Teriak bee jeong kalap dan mulai mencekik leher hye ra. " lepaskan...aku tidak bisa bernafas..." ronta hye ra merasa sesak karena tercekik, ia mulai memukuli tangan bee jeong yang masih belum menyingkir dari lehernya. " kya...kau tidak merasa malu memperlakukan wanita seperti ini di depan orang banyak?" ucap hye ra terputus putus. sepertinya ucapannya berguna juga karena kini bee jeong mulai merenggangkan cekikannya sambil memperhatikan ke sekililing dimana orang orang memang sedang memperhatikannya. Hye ra sedikit merasa lega tapi hal itu hanya berlangsung sebentar saja karena tiba tiba bee jeong menyeretnya ke suatu tempat yang sunyi yakni di atas atap gedung itu. " kau mau apa!! Lepaskan aku..." hye ra berusaha meronta melepaskan diri dari cengkraman kasar pria itu saat tiba di atas atap gedung. bee jeong yang belum melepaskan cengkeramannya lalu mendorong tubuh hye ra ke pinggir atap seolah olah hendak mencampakkannya dari tempat tinggi itu, bahkan ia tidak perduli lagi dengan rintik rintik hujan yang memang mulai mereda. " apa kau ingin membunuhku?" tanya hye ra mulai panik, tangannya berpegang erat pada pagar atap takut kalau sewaktu waktu terjatuh. " kau kira aku main main? Aku benar benar ingin melihatmu mati saat ini!" teriak bee jeong begitu berang. " cham...chamkanman...kita... bisa bicara baik baik..." gumam hye ra mulai merasa gemetar saat bee jeong mendorong dan terus mendorong tubuhnya hingga hampir terjun dari atap itu. Hye ra merasa yakin kalau pria yang bersamanya itu tidak sedang main main. hye ra mulai menjerit ketakutan sambil menengok ke bawah, nyalinya semakin ciut saat membayangkan tubuhnya akan jatuh dari tempat setinggi itu, dan tiba tiba ponselnya berbunyi, walau dalam keadaan terancam seperti itu ia masih sempat mengobrak abrik tasnya untuk menemukan ponselnya. Bee jeong bertambah kesal dengan ulahnya itu. " sepertinya kau tidak menganggapku serius ya!" geramnya semakin mendorong tubuh gadis itu. Hye ra menjerit ketakutan dan hampir menangis. " Mian...mianhae..." gumamnya berulang kali merasa menyesal. " aku akan melepaskanmu jika kau mengatakan penyesalanmu sambil berlutut di depanku dan di hadapan orang orang yang ada di dalam...kau mau?!" Hye ra berpikir sejenak apakah ia harus menerima tawaran bee jeong atau tidak tapi walau bagaimanapun hye ra adalah sosok gadis yang tegas dan sangat berprinsip, tentu saja dia akan menolak untuk berlutut dan meminta maaf karena ia sama sekali tak merasa bersalah. " lupakan saja! Tolak hye ra " aku lebih baik mati dari pada berlutut di depanmu. Tapi...sebelum mati izinkan aku menerima telepon ini untuk yang terakhir kalinya" lanjutnya kemudian dan segera menjawab telepon itu tanpa mendapat persetujuan dari sang penyandera. " yeoboseo..." sahutnya terburu buru. " nde, dokter park! Mengapa Kau menelponku?" tanyanya dengan nada serius. Setelah mendengar penjelasan dari lawan bicaranya di telepon, Wajah hye ra kini berubah menjadi tegang dan pucat pasih seperti baru saja mendengar kabar yang buruk. Bee jeong yang sedari tadi sudah tidak sabar segera merampas ponsel itu dari tangan hye ra. " jadi kau memang tidak takut mati!! Aku semakin suka dengan permainan ini" ucapnya sambil menyeringai. hyera masih mematung dan tertegun bahkan sama sekali tak menanggapi ucapan bee jeong dan sepertinya ia masih terkejut dengan kabar yang baru di dengarnya. " andwae...ini tidak boleh terjadi" gumamnya lirih dengan suara gemetar. " kyaaa... kau tidak mendengarku!!" bee jeong berteriak dengan mata melotot. " biarkan aku pergi" sahut hye ra mulai menyadari situasi dirinya. " mwo? Membiarkanmu pergi?" ulang bee jeong lalu mendekati wajah hye ra seperti hendak menelannya. " lupakan saja! Kecuali kau menyanggupi syarat yang tadi aku minta" lanjutnya tanpa rasa iba sedikitpun. " biarkan aku pergi atau ku hajar KAU!!" hye ra berteriak mulai kesal. " lakukan saja jika kau berani!" balas bee jeong ikut berteriak garang dan tiba tiba.... " B U K K K....!!" Sebuah pukulan keras mendarat tepat di wajahnya dan mengenai hidung mancungnya. Bee jeong tersungkur sambil meringis menahan sakit dan tak pernah menduga kalau gadis di depan itu benar benar nekad memukulnya. " darah..." pekiknya dalam hati saat menyeka cairan kental yang keluar dari hidungnya. " aku sudah memperingatkanmu jadi jangan salahkan aku!!" gumam hye ra masih emosi lantas berlari pergi. " KYAA! Jangan pergi kau, gadis Brengsek!!" maki bee jeong sambil bangkit dan menutupi hidungnya dengan sapu tangannya lalu mengejar hye ra. *** Sementara itu go ah ra baru saja tiba di depan green building dan begitu keluar dari dalam mobilnya, hye ra muncul dari dalam gedung sambil berlarian dengan wajah tegang menuju ke arahnya. " hye ra, kau kenapa?" tanya ah ra merasa panik apalagi melihat hye ra masuk begitu saja ke dalam mobil tanpa sempat menjawab pertanyaannya. " apa yang terjadi denganmu? Bajumu basah semua..." tanya ah ra setelah menyusul ke dalam mobil. " nanti aku jelaskan. Sekarang antarkan aku ke rumah sakit!" sahut hye ra terburu buru. " lalu bagaimana dengan acaramu?" " lupakan saja! Anggap saja aku telah gagal. Palli ka...!" pinta hye ra mulai khawatir kalau sampai bee jeong mengejarnya dan sepertinya kekhawatirannya itu telah terjadi, ia melihat bee jeong keluar dari dalam gedung dan berlari ke arah mobil go ah ra. " ah ra, cepat pergi sekarang!" teriak hye ra histeris. go ah ra yang sama sekali tidak tahu menahu kejadiannya merasa terkejut saat seseorang menggedor gedor kaca mobilnya dan secara refleks langsung menginjak gas mobil dan melesat pergi. bee jeong tidak tinggal diam dan langsung masuk ke dalam mobil porche whitenya dan mengejar kedua wanita itu. " apa kau kenal dengan pria itu?" tanya go ah ra sambil ngebut. " aku tak mengenalnya tapi aku baru saja memukulnya" " gawat! Sepertinya dia mengejar kita!" teriak ah ra. " kau harus lebih cepat lagi! Kalau tidak dia akan membunuhku!" hye ra mulai panik saat melihat mobil bee jeong mulai mendekat. " aku sudah ngebut. Bagaimana kalau aku menabrak orang!" " aku tidak mau tahu, kau harus menurunkanku di rumah sakit, sekarang juga!" " arra....arra...." go ah ra semakin melaju mobilnya karena jarak rumah sakit sudah tidak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang. Setelah melewati tikungan tajam go ah ra menghentikan mobilnya dan Dengan sigap hye ra keluar dan langsung berlari menuju pekarangan rumah sakit sedang go ah ra kembali melaju mobilnya agar bee jeong terkecoh dan mengejarnya. Dan sepertinya rencananya berhasilse, bee jeong sudah terkecoh dan terobsesi untuk mengejar mobil ah ra. Setelah beberapa menit akhirnya mobil bee jeong berhasil menyalip mobil go ah ra. Kedua mobil itu terhenti mendadak dan bersamaan. bee jeong segera menghampiri mobil ah ra dan menyuruh pemiliknya keluar sambil menggedor kaca jendela mobilnya. " mwo ya?" teriak go ah ra setelah membuka kaca mobilnya. bee jeong memeriksa ke dalam mobil dan tak menemukan wanita yang ia cari. " kemana wanita itu?" tanyanya sambil membuka pintu mobil lalu menyeret ah ra keluar. " aku tidak mengerti maksudmu, cuma aku wanita yang berada dalam mobil ini" sahut ah ra berbohong. " jangan membohongiku! Aku tahu tadi dia berada di dalam mobilmu! Dimana DIA!" bentak bee jeong. " aku...tidak tahu..." ah ra mulai gemetar. " JAWAB AKU !! " bentaknya lagi sambil memukul atap mobil dan membuat ah ra ketakutan setengah mati. " geurae...geurae! Tadi aku menurunkannya di tengah jalan" jawabnya jujur. " Sialll !! Maki bee jeong kesal dan menyesal telah membuang waktunya yang berharga untuk mengejar orang yang salah. ah ra menghembuskan nafas lega setelah bee jeong berlalu pergi. " galak sekali pria itu! Tapi...wajahnya tampan juga" gumamnya sendiri. ~ Rumah Sakit Hye ra berdiri di depan ranjang kamar rumah sakit dimana tubuh ayahnya tergeletak dalam keadaan koma lengkap dengan berbagai peralatan medis yang membantu sebahagian organ tubuh ayahnya agar berfungsi. Begitu seorang dokter yang amat di kenalnya muncul, hye ra langsung menegurnya. " dokter park, bisa kau jelaskan lagi apa sebenarnya yang telah terjadi?" dokter park tidak menjawab melainkan menyerahkan secarik kertas padanya. " apa ini? " tanya hye ra lantas membaca kertas itu dengan hati hati. " ini..." " gurae! Itu adalah surat pemperitahuan dari kantor asuransi kesehatan ayahmu, mereka mengatakan telah mencairkan dana pengobatan ayahmu ke dalam bentuk uang tunai " jelas dr. Park. " lalu...apa maksud semua ini? Dan siapa yang telah mencairkan dana itu?" hye ra kembali bertanya dengan perasaan sedih. " ibumu yang telah mencairkan sisa dana itu dan meminta pihak rumah sakit untuk menghentikan pengobatan ayahmu. Mungkin...dia sudah putus asa karena keadaan ayahmu yang hingga sekarang belum juga sembuh dari koma" " ibuku? Jadi dia yang melakukannya?" hye ra kaget begitu mendengar penuturan dokter park. " nde! Saat ini pihak rumah sakit sedang menunggu keputusan darimu, meneruskan pengobatan atau merelakan kepergian ayahmu" " andwae!! Ayahku harus tetap hidup dokter! Dia tidak boleh meninggal" ucap hye ra dengan suara gemetar. " aku mengerti perasaanmu hye ra, tapi biaya rumah sakit...." " aku akan membiayai semua pengobatan ayahku! Ayahku harus sembuh!" hye ra menyela ucapan dr. Park, ia mulai merasa panik. Walaupun ia menyadari betapa besar biaya pengobatan ayahnya dan mengingat keadaan dirinya saat ini terancam di pecat oleh bosnya setelah gagal memenangkan tender ia tidak perduli. Saat ini yang ada di benaknya adalah kesembuhan ayahnya dan harus segera mencari ibunya guna meminta penjelasan dan pertanggung jawaban. Tempat yang pertama kali di kunjunginya adalah sebuah bar yang merupakan tempat ibunya biasa menghabiskan waktu setiap hari. Di siang hari seperti saat ini tempat itu tampak sunyi dan akan berbeda suasananya jika di malam hari, tempat itu akan disulap menjadi tempat berkumpulnya segala macam manusia. Hye ra menuju ke sebuah ruangan lalu membuka paksa pintu ruangan itu, di dalamnya tak ada tanda tanda keramaian hanya ada si pemilik bar di dalamnya yaitu seorang wanita berambut pirang yang usianya sepadan dengan ibunya. Wanita yang sedang menghisap sepuntung rokok sambil asyik menghitung sejumlah uang di atas mejanya itu merasa terganggu dengan kedatangan hye ra. " apa kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk ke rumah orang?" hardiknya " dimana ibuku?" hye ra langsung bertanya tanpa berbasa basi. " dia baru saja pergi dari sini setelah melunasi hutang hutang judinya, kau cari saja ibumu di rumah! Sepertinya saat ini dia sedang banyak uang" sahut pemilik bar itu sambil tetap menghitung uangnya. Hye ra langsung bergegas pergi setelah mendengar penjelasan itu, ia tak menghiraukan teriakan pemilik bar itu yang mengatainya tidak tahu sopan santun karena pergi tanpa berpamitan padanya. Masa bodoh! Batin hatinya. Begitu tiba di rumah hye ra mendapati ibunya sedang duduk santai dengan kedua kaki bertengger di atas meja sedang di tangannya menggenggam segelas minuman keras. " eomma..." panggil hye ra. " wae? Ada yang ingin kau katakan padaku?" sambutnya begitu santai sambil melirik ke arah hye ra yang kini sedang menatap nanar ke arahnya. " apa maksud ibu melakukan semua ini! Kenapa ibu begitu tega kepada ayah?" kesal hye ra " jadi dr. Park sudah memberitahukan semuanya padamu, bagus lah...jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi padamu kan?" " eomma, jelaskan padaku kenapa eomma begitu tega?" hye ra mulai berteriak kesal. "aku sudah ikhlas kehilangan suami. Ayahmu sudah tidak punya harapan lagi untuk hidup lalu untuk apa kita harus menyia-nyiakan uang tersebut untuk pengobatan yang tiada hasilnya?" sahut ibunya begitu santai sambil meneguk sisa minumannya. Hye ra menggeleng tak percaya mendengarnya. " tidak seharusnya eomma berkata seperti itu, ayah masih hidup dan dia akan sembuh jadi...kumohon kembalikan uang itu!" desak hyera sambil berteriak. " jangan berteriak padaku!" hardik ibunya sambil berdiri dari duduknya " dia suamiku dan aku berhak menentukan semuanya, kau faham!" lanjutnya kemudian mulai marah. " dia juga ayahku! Dan aku tidak akan membiarkan eomma berbuat semena-mena dengan menggunakan uang asuransi itu untuk membayar hutang judi ibu! Apa kau pantas disebut seorang istri!!" teriak hye ra begitu emosi. " jaga bicaramu! Dan ingat siapa dirimu sebenarnya!" balas ibunya tak kalah emosinya. " kau bukanlah siapa-siapa di rumah ini, kau hanyalah anak adopsi..." lanjutnya lagi penuh kebencian. hye ra terhenyak mendengar ucapan ibunya, setelah 15 tahun lamanya ini pertama kali ia mendengar kata kata yang menyakitkan itu, bibirnya terasa keluh, hatinya terasa sakit dan tanpa terasa air matanya bergulir. " kata kata ibu begitu menyakiti hatiku...." desahnya menahan tangis, sedang ibunya tak mau menatapnya dan memalingkan wajahnya ke tempat lain dimana song mi li tengah berdiri mendengarkan pertengkaran mereka. " bukankah aku tidak pernah meminta kalian untuk mengadopsiku!" " gurae! Suamiku yang begitu ingin mengadopsimu dan berharap kami akan mendapatkan keturunan tapi ternyata kau anak pembawa sial di rumah ini hingga aku melahirkan anak cacat seperti dia! " ucap ibunya ketus sambil menuding kearah mi li yang kini mulai ketakutan. " ibu sungguh keterlaluan! Kenapa menyalahkan semuanya padaku!" " aku tidak ingin berdebat denganmu lagi! Jika kau tetap menentangku tinggalkan rumah ini sekarang juga!" gertak ibunya. " gurae! Akutidak takut dengan ancaman ibu! Sekarang juga Aku akan pergi dari rumah ini!" sahut hye ra terbakar emosi lantas bergegas masuk ke kamarnya untuk mengemasi pakaiannya. " pergilah dan lupakan keluarga ini!" terdengar sahutan ibunya dari luar kamar dan semakin membuat emosi hye ra semakin memuncak, tekadnya pun sudah bulat untuk tetap pergi. Namun di depan pintu rumah song mi li menghentikan langkahnya dengan memegangi erat tangan hye ra. " mianhae mi li-ah... eonni harus pergi" ucap hye ra merasa menyesal. " eonni...aku ikut denganmu..." rengek mi li yang kini sudah memeluk hye ra sambil menangis, memohon agar hye ra mengajaknya pergi. Hye ra selalu tidak sampai hati bila melihat adiknya itu menangis, hatinya selalu luluh dan perasaan iba selalu muncul tatkala melihat wajah bodoh dan malang milik song mi li. Karena perasaan sayang yang begitu besar membuat hye ra tidak punya pilihan lain selain membawa mi li ikut bersamanya. Tapi kemana mereka akan pergi? Hye ra sendiri masih bingung tak punya tempat tujuan. Sesaat ia mulai menyesali dirinya yang tersulut oleh emosi sesaat hingga membuatnya mengambil keputusan gegabah untuk keluar dari rumah tapi semua sudah terlanjur terjadi dan tidak sepantasnya dia menyesali. Di saat seperti ini ia teringat go ah ra, mungkin saja temennya itu bisa memberinya bantuan, batinnya kemudian lantas berniat menghubunginya. " dimana ponselku?" bisiknya kemudian sambil sibuk mencari-cari ponselnya. Setelah sekian lama mencari tentu saja ia tidak berhasil menemukannya karena ponsel itu kini sudah berada di tangan kim bee jeong, begitu menyadari hal itu ekspresi wajah Hye ra berubah drastis dan tampak tak bersemangat. haruskah ia berurusan lagi dengan pria nekad itu? Tanyanya di dalam hati mulai mengacaukan pikirannya. " kemana aku harus pergi?" bisiknya kemudian semakin bingung apalagi saat memalingkan wajahnya ke arah mi li yang duduk santai di sampingnya, kedua mata adiknya itu mulai mengecil dan memerah karena mengantuk. Tak tega melihat kondisi adiknya hye ra pun segera mengajaknya pergi ke suatu tempat yang bisa menjadi tempat berteduh sementara sebelum menemukan tempat yang layak bagi mereka, tempat itu adalah rumah sakit dimana kini ayahnya di rawat. ~KIM INDUSTRY Di dalam ruangan pribadinya, kim bee jeong masih sibuk mengompres hidung memarnya dengan batu es yang dibungkus sapu tangan. Sesekali ia mengupat dan mencaci maki wanita yang sudah melakukan hal itu padanya. Ia baru menghentikan kegiatannya itu setelah mendengar suara ketukan pintu. " masuk lah!" perintahnya sambil memperbaiki posisi duduknya. seorang pria berjas hitam yang sepertinya mengemban sebuah tugas darinya segera masuk ke dalam. " ini adalah rancangan bangunan milik gadis yang tuan kejar kejar tadi" tuturnya kemudian sambil menyerahkan sebuah rancangan bangunan. Bee jeong segera menerimanya dan mulai memperhatikan rancangan itu. " setelah di teselidiki ternyata gadis itu bekerja di perusahaan yang sudah sangat tuan kenal yaitu HS kontruksi, ia menjabat sebagai kepala perencanaan bangunan, dia tamatan dari seoul university jurusan arsitek, selain itu ternyata ayahnya adalah..." " itu sudah cukup! Kau boleh pergi!" potong bee jeong menghentikan penjelasan suruhannya itu dan menyuruhnya pergi. Sudut bibir bee jeong sedikit terangkat menunjukkan sesungging senyum tapi bukan senyuman manis melainkan senyuman misterius dengan sebuah rencana tersembunyi di benaknya. " akhirnya kena kau!! kali ini kau tidak akan bisa lari lagi dariku, gadis sialan!!" gumamnya sendiri sambil memandang kedua barang yang tergeletak di atas mejanya yaitu sebuah rancangan bangungan dan ponsel milik hye ra. Apakah rencana bee jeong terhadap hye ra? Kalau ada yang ingin menyumbangkan ide, saya terima dengan senang hati, terimakasih :)) C O N T I N U E.....

Follow
4.7 Star App Store Review!
Cpl.dev***uke
The Communities are great you rarely see anyone get in to an argument :)
king***ing
Love Love LOVE
Download